Orang Hutan Mati Di Bantai Tembakan Sebanyak 17 Peluru Dan Senjata Tajam
Autopsi dilakukan Kamis (18/1) kemarin oleh tim forensik Polda Kalimantan Tengah, dokter dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan dari Centre for Orangutan Protection (COP) juga BKSDA Kalteng. Tujuannya untuk memastikan penyebab kematian Orangutan jantan dewasa itu.
Proses autopsi kemarin dilakukan sekitar 2 jam. Ditemukan 3 luka di leher akibat benda tajam, sehingga leher putus atau kena tebasan, kata Manajer Perlindungan Habitat COP Ramadhani.
Sederetan bukti lainnya hasil autopsi juga ditemukan 17 peluru senapan angin, patahnya 7 tulang rusuk, lambung pecah, jantung luka akibat peluru senapan angin hingga lebam di bagian dada kiri.Lebam ini akibat benda tumpul hingga tulang rusuk patah. Diperkirakan matinya orangutan ini, sudah 3 hari sebelumnya,ujar Ramadhani.
Dijelaskan, orangutan itu dipastikan liar lantaran tidak ditemukan mikro chip, sebagaimana yang pernah masuk program rehabilitasi. Kalau pencernaannya normal.Karena terdapat kulit dan daun-daunan yang belum tercerna sempurna," ungkap Ramadhani.
Ini momen KLHK dan BKSDA untuk menegakkan hukum. Belajar dari kasus di Kaltim (pembantaian orangutan 2011 di Desa Puan Cepak Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur), warga banyak jadi lebih sadar untuk perlindungan Orangutan. Sosialisasi perlindungan satwa percuma, lebih bagus penindakan dan penegakan hukum itu lebih bagus.
Diketahui, sempat dikira jasad manusia, bangkai satwa orangutan, ditemukan mengambang di sungai Kalahien Buntok, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Kondisinya bangkai orangutan itu mengenaskan, tanpa kepala dan tangan nyaris putus. Tidak menunggu lama, bangkai itu pun dikuburkan bersama warga sekitar, setelah dilaporkan ke BKSDA Kalteng.

No comments:
Post a Comment