Thursday, March 29, 2018

Besi Terancam Tutup Tidak Ada regenerasi

PEMAINBANDARQ

Besi Terancam Tutup Tidak Ada regenerasi

Dentingan besi saling bersahutan di sebuah gubuk yang beratapkan rumbia. Tangan pengrajin terlihat cekatan mengayunkan palu seberat 2 kilogram menghantam besi panas yang berwarna merah.

Besi berwarna hitam berubah menjadi merah. Cepat-cepat pekerja menghantamkan palu ke besi dengan hati-hati, hingga pelan-pelan besi per mobil tipis memanjang berubah wujud menjadi parang dan beragam jenis peralatan perkebunan dan pertanian lainnya.

Hawa panas terasa di sekitar 5 meter dari dapur membakar besi. Di samping dapur ada penampung air. Sesekali pekerja membasuh tangan untuk sedikit mendinginkan hawa panas yang bersumber dari bara api yang membakar besi.

Besi yang berwarna merah itu diambil menggunakan tang menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan memegang palu, lalu besi sama besi beradu di atas besi bulat setinggi satu meter yang dijadikan alas tempat meletakkan besi yang hendak diproduksi parang.

Sedangkan di sudut lain, dua pekerja sibuk merapikan setiap parang yang sudah dibentuk. Percikan api memancarkan dari parang tersebut saat digrinda menggunakan alat khusus. Percikan api itu menyebar ke depan pekerja. Tentu, tak boleh telalu dekat berdiri di depannya, bila tak mau terbakar dengan percikan bunga api itu.

Setelah itu, baru besi per mobil berubah bentuk menjadi parang atau beragam jenis peralatan tajam lainnya. Tentunya, dua pekerja yang khusus merapikan parang memasang gagangnya yang terbuat dari kayu dan siap dipasarkan di Gampong Baro, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Abdul Munir (44), salah seorang pengrajin besi di Gampong Lamblang Mayang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar mengaku sudah menjadi pengrajin besi sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Keahlian menjadi perajin pandai besi sudah dilakoninya secara turun temurun. Tak heran, gampong tersebut dikenal dengan kawasan pengrajin besi. Munir sendiri belajar menjadi pandai besi dari orang tuanya, pulang sekolah dulunya langsung bekerja membuat parang dan beragam peralatan perkebunan dan pertanian lainnya

No comments:

Post a Comment